Home » e-Conomy SEA: Kolaborasi Google dan Temasek untuk Internet Economy di Asia Tenggara

e-Conomy SEA: Kolaborasi Google dan Temasek untuk Internet Economy di Asia Tenggara

  • by

e-Conomy SEA merupakan program penelitian tahunanyang dirilis oleh Google dan Temasek pada tahun 2016. Bain & Company kemudian bergabung dalam program ini sebagai partner penelitian pada tahun 2019. Penelitian yang dilakukan mempengaruhi analisis Bain, Google Trends, riset Temasek, berbagai bidang industri dan wawancara para ahli, untuk menerapkan internet economy di Asia Tenggara. Informasi yang dicantumkan dalam laporan tahun 2020 ini bertemakan “Google, Temasek dan Bain, e-Conomy SEA 2020”.

Insight negara di Asia Tenggara

Poin Penting dari Laporan e-Conomy SEA 2020

Laporan ini mencakup perekonomian terbesar di enam negara Asia Tenggara. Ada total 400 juta dari 580 juta populasi yang tinggal di negara-negara ini, di mana mereka selalu online. Jumlah tersebut setara dengan 70% dari populasi di seluruh wilayah Asia Tenggara. 40 juta dari mereka baru saja online pada tahun 2020.

Berdasarkan statistiknya, berikut jumlah populasi online di keenam negara Asia Tenggara yang telah disebutkan:

Thailand : 70 juta penduduk online

Vietnam : 96 juta penduduk online

Malaysia : 32 juta penduduk online

Singapura : 6 juta penduduk online

Indonesia : 271 juta penduduk online

Filipina : 108 juta penduduk online

Enam Tema Utama yang Menjadi Sorotan di Tahun Ini

Penggunaan internet terus meningkat, dengan bertambahnya 140 juta pengguna online sejak tahun 2015. Namun, terjadinya pandemi menimbulkan banyak tantangan yang harus dihadapi, dan kegunaan internet jadi semakin dibutuhkan.

Berikut enam tema yang disoroti dalam laporan e-Conomy SEA 2020:

Adanya Transformasi Digital

Penggunaan internet di setiap negara terus bertambah. Tahun 2020 ini saja, pengguna online yang baru bertambah hingga 40 juta orang. Sementara, dalam lima tahun terakhir sebelum ini, ada total 100 juta pengguna baru.

Grafik pengguna internet di Asia Tenggara

Hal tersebut masih ditambah dengan adanya COVID-19 yang mempercepat konsumsi digital para pengguna yang menggunakan layanan digital untuk pertama kalinya. 1 dari 3 konsumen layanan digital mulai menggunakan layanannya di masa pandemi COVID-19. Memang ini merupakan efek dari COVID-19, tapi dengan adanya 94% pengguna baru yang akan terus menggunakan digital service hingga pasca pandemi, artinya kebiasaan online ini benar-benar nyata dan permanen hingga nanti.

Layanan Publik Secara Online

Selama masa lockdown COVID-19, semua sektor industri beralih ke internet. Layanan masyarakat juga diberikan melalui internet, mulai dari belanja barang-barang kebutuhan, pelayanan kesehatan, pendidikan hingga hiburan.

Grafik waktu rata-rata online di Asia Tenggara

Pengaruhnya, penduduk Asia Tenggara menghabiskan waktu lebih banyak satu jam setiap hari untuk online di internet, dan 8 dari 10 orang menilai bahwa teknlogi bisa membantu selama masa pandemi.

Ketahanan dalam Kondisi Krisis

Tahun ini, e-Commerce, media online dan layanan pesan antar makanan meningkat drastis. Sebaliknya, transportasi dan travel online sangat menurun.

Grafik ekonomi internet di Asia Tenggara

Pada akhirnya, sektor internet pasti tetap bertahan di angka USD $100 miliar GMV (gross merchandise volume) di akhir tahun, dan diprediksi akan terus tumbuh hingga lebih dari USD $300 miliar pada tahun 2025.

Mempersiapkan Strategi untuk Profit

Sejak memuncak di tahun 2018, aliran dana untuk unicorn di sektor-sektor utama seperti e-Commerce, transportasi dan makanan, travel serta media terus berkurang.

Grafik investasi unicorn di Asia Tenggara

Sekarang, berbagai platform sedang mencoba kembali fokus terhadap bisnis utama mereka, untuk memprioritaskan strategi agar bisa mendapat profit.

Munculnya Inovasi Baru

Selama masa pandemi, HealthTech dan EdTech sangat dibutuhkan, dan kedua sektor ini akan terus berkembang. Maka dari itu, tantangan yang mungkin akan muncul harus bisa diantisipasi, sebelum industri bisnis digital tersebut dijual secara komersial.

Grafik penggunaan telemedicine platform di Asia Tenggara

Namun, dengan adanya kemampuan mengadopsi teknologi, diiringi dengan pendanaan yang tumbuh dengan cepat, dipastikan akan ada inovasi baru di tahun-tahun mendatang.

Optimisme Semakin Tinggi

Ke depannya, investor akan semakin percaya diri. Kegiatan perdagangan antar negara berkembang semakin pesat di paruh tahun pertama 2020. Meskipun terjadi guncangan di pasar, tapi angka pertumbuhan dagang tetap tinggi dan para investor merasa begitu optimis.

Grafik deal value di Asia Tenggara

Melihat target di tahun-tahun sebelumnya yang menginginkan angka penjualan melesat cepat, kini investor lebih mengutamakan pertumbuhan yang terus berkelanjutan dan menguntungkan.

Kesimpulan

Dari hasil laporan e-Conomy SEA tersebut, bisa kita lihat bahwa kebutuhan konsumen akan layanan digital terus meningkat. Maka dari itu, kita perlu mengembangkan teknologi digital saat ini, juga di masa yang akan datang. Selain itu, perputaran uang dalam perekonomian internet juga tinggi mencapai $100 miliar dan diperkirakan akan tumbuh hingga $300 miliar di tahun 2025.

Investasi di bidang teknologi

Kemudian, investasi di bidang teknologi juga tetap kuat, terutama untuk industri HealthTech dan EdTech atau teknologi kesehatan dan teknologi pendidikan. Sementara, seiring dengan perubahan gaya hidup karena terlibatnya teknologi, harus ada proses adopsi, penerimaan dan penggunaan oleh konsumen dan UKM (usaha kecil menengah) secara cepat.

Terakhir, perlu diperhatikan bahwa persaingan sehat di pasar masih terus berlangsung, dengan lebih banyak peluang dalam ekosistem yang terbuka. Untuk mendalami lebih lanjut tentang laporan ini, Anda bisa juga mengunduhnya sebagai bahan referensi. Sementara, dalam mengembangkan strategi digital perusahaan, maka Anda bisa mengandalkan bantuan dari Maxsol. Maxsol siap memberikan layanan terbaik untuk membantu mengembangkan bisnis Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *